Sabtu, 19 Maret 2011

Penanganan Masalah Siswa di Sekolah


Disekolah sangat mungkin ditemukan siswa yang bermasalah, dengan menunjukan berbagai gejala penyimpangan perilaku. Yang merentang dari kategori ringan sampai dengan yang berat. Upaya untuk menangani siswa yang bermasalah,khususnya yang terkait dengan pelanggaran disiplin sekolah dapat dilakukan dengan pendekatan yaitu :

1. Pendekatan Disiplin
2. Pendekatan Bimbingan dan Konseling

Penanganan siswa yang bermasalah melalui pendekatan disiplin merujuk pada aturan dan ketentuan (Tata Tertib) yang berlaku disekolah beserta sanksinya. Sebagai salah satu komponen organisasi sekolah, aturan (tata tertib) siswa beserta sanksinya memang perlu ditegakkan untuk mencegah dan sekaligus mengatasi terjadinya berbagai penyimpangan perilaku siswa. Kendati demikian, harus diingat sekolah bukan “ lembaga hukum” yang harus mengobral sanksi kepada siswa yang mengalami gangguan penyimpangan perilaku. Sebagai lembaga pendidikan, justru kepentingan utamanya adalah bagaimana berusaha menyembuhkan segala penyimpangan perilaku yang terjadi pada para siswanya.
Oleh karena itu, disiplin yang kedua perlu digunakan yaitu pendekatan melalui Bimbingan Konseling. Berbeda dengan pendekatan disiplin yang memungkinkan memberikan efek jera, penanganan masalah siswa berasalah melalui bimbingan konseling justru lebih mengutamakan pada upaya penyembuhan dengan menggunakan berbagai layanan dan teknik yang ada. Penanganan siswa bermasalah melalui bimbingan konseling sama sekali tidak menggunakan bentuk sanksi apa pun, tetapi lebih mangandalkan pada terjadinya kualitas hubungan interpersonal yang saling percaya diantara konselor dan siswa yang bermasalah, sehingga setahap-demi setahap siswa tersebut dapat memahami dan menerima diri dan lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri guna tercapainya penyusaian diri yang lebih baik.
Secara visual, kedua pendekatan dalam menangani siswa bermasalah dapat dilihat dalam bagan berikut ini :






















Dengan melihat gambar diatas, kita dapat memahami bahwa diantara kedua pendekatan penanganan siswa yang bermasalah tersebut, meski memiliki cara yang berbeda tetapi jika dilihat dari segi tujuan pada dasarnya sama yaitu tercapainya penyusaian diri atau perkembangan yang optimal pada siswa yang bermasalah. Oleh karena itu kedua pendekatan tersebut seyogyanya dapat berjalan sinergis dan saling melengkapi.
Sebagai ilustrasi, misalkan disuatu sekolah ditemukan seorang siswi yang hamil akibat pergaulan bebas, sementara tata tertib sekolah dengan tegas menyatakan untuk kasus demikian, siswa yang bersangkutan harus dikeluarkan. Jika hanya mengandalkan pendekatan disiplin, mungkin tindakan yang akan diambil sekolah adalah berusaha memanggil orang tua/ wali siswa yang bersangkutan dan ujung-ujungnya siswa dinyatakan dikembalikan kepada orang tuanya . jika tanpa Intervensi Bimbingan konseling, maka sangat mungkin siswa yang bersangkutan akan meninggalkan sekolah dengan dihinggapi masalah-masalah baru yang justru dapat semakin memperparah keadaan. Tetapi dengan Intervensi Bimbingan konseling didalamnya diharapkan siswa yang brsangkutan bisa tumbuh perasaan dan pemikiran positif atas masalah yang menimpa dirinya, misalnya secara sadar menerima resiko yang terjadi, keinginan untuk tidak berusaha menggugurkan kandungan yang dapat membahayakan dirinya maupun janin yang dikandungnya, keinginan untuk melanjutkan sekolah serta hal-hal positif lainnya, meski ujung-ujungnya siswa tersebut dikaluarkan dari sekolahnya.
Perlu digaris bawahi, dalam halini bukan berarti guru BK/ Konlesor yang harus mendorong atau bahkan memaksa siswa untuk keluar dari sekolahnya.persoalan mengeluarkan siswa merupakan wewenang kepala sekolah, dan tugas guru BK hanyalah membantu siswa agar dapat memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. Lebih jauh, meski saat ini paradigma pelayanan bimbingan konseling lebih mengedepankan pelayanan yang bersifat pencegahan dan pengebangan, pelayanan bimbingan konseling terhadap siswa yang bermasalah tetap masih menjadi perhatian. Dalam hal ini perlu diingat bahwa tidak semua masalah harus ditangani oleh guru BK, dalam hal ini, Sofyan S. Willis (2004) mengemukakan tingkatan masalah beserta mekanisme dan petugas yang menanganinya, sebagimana dalam bagan berikut :

1. Masalah (Kasus) Ringan
Seperti, membolos, malas, kesulitan belajar pada bidang tertentu, berkelahi dengan teman sekolah, bertengkar, minum-minuman keras, mencuri di kelas, kasus ringan dibimbing oleh wali kelas dan guru dengan berkonsultasi kepada kepala sekolah (konselor/ guru pembimbing dan mengadakan kunjungan rumah.

2. Masalah (Kasus) Sedang
Seperti, gangguan emosional, berpacaran dengan perbuatan menyimpang, berkelahi antar sekolah, kesulitan belajar karena gangguan dikeluarga, minum-minuman keras tahap pertangahan, melakukan gangguan sosial dan asusila. Kasus sedang ditangani dan dibimbing oleh guru BK dan berkonsultasi dengan kepala sekolah, ahliprofesional, polisi, guru dan sebagainya.

3. Masalah (Kasus) Berat
Seperti, gangguan emosional berat, kecanduan alkohol dan narkotika, pelaku kriminallitas, siswa hamil, percobaan bunuh diri, perkelahian dengan senjata tajam dan senpi, kasus berat dilakukan Referal (Alih tangan kasus) kepada ahli psikologi dan psikiater, dokter, polisi, ahli hukum yang sebelumnya terlebih dahulu dilakukan kegiatan Konferensi kasus




Secara Visual, penanganan kasus siswa bermasalah melalui bimbingan dan konseling dapat dilihat dalam bagan berikut :









Dengan melihat penjelasan diatas, tampak jelas bahwa penanganan siswa bermasalah melalui pendekatan bimbingan dan konseling tidak semata-mata menjadi tanggung jawab guru BK/ Konselor disekolah tetapi dapat pula melibatkan berbagai pihak lain untuk bersama-sama membantu siswa agar memperoleh penyusaian diri dan perkembangan pribadi secara optimal.

0 komentar:

Poskan Komentar